Monday, August 31, 2009

ESQ165 RAMADHAN. KUCHING. SARAWAK





Hanya sekadar satu perkongsian setelah training ESQ minggu yang lalu, pengalaman yang luar biasa , indah, seru dan InsyaAllah takkan lupa :)
Tapi kerana masih sukar mengungkapkanya dengan kata-kata,
Selanjutnya, cuba kita semak kembAli tulisan seorang Alumni ESQ ini, setidaknya dapat mewakili perasaan saya dan seluruh peserta ESQ yang lainnya. :

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Dan bulan apabila ia mengelilingi
Dan siang apabila ia menerangi
Dan malam apabila ia menutupi
Dan langit beserta segala binaannya
Dan bumi beserta segala yang di permukaannya
Dan jiwa beserta penyempurnaannya.
Allah mengilhami sukma kebaikan dan keburukan
Beruntunglah mereka yang mensucikannya
Dan merugilah mereka yang mengotorinya

Pada pagi itu,sehari sebelum Ramadhan tiba dan pagi tersebut tercurah air mata tumpah dari seratus lebih pasang mata. Setelah 25 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan bahkan 60 tahun, jasad ini baru menyedari betapa selama ini dirinya belum 'mengenal' siapa diri dan siapa yang selama ini yang disembah. Dalam setiap solat, ramai yang mengaku bahawa "Allah Maha Besar". Namun Ka'abah yang bersemayam di dalam hatinya masih penuh dengan berhala-berhala dunia yang mereka 'besar'-kan: keangkuhan, keakuan, kesombongan, kepandaian, kecantikan, kekayaan, pangkat, anak, ... Sungguh mereka akan ngeri jika dapat melihat 'wujud' non-fizik dari berhala yang mereka pelihara sekian lama bertakhta di dada. Sungguh menyeramkan. Selama ini pengakuan tersebut adalah pengakuan yang bohong!

Bagaimana jika sehari sebelumnya mereka sudah dimasukkan ke liang lahad? Dikubur bersama berhala-berhala yang selama hidup disembahnya dengan penuh perhatian, curahan waktu, perjuangan yang keras? Bukankah belum dikatakan beriman jika dalam hati mereka masih ada setitik kesombongan? Air mata pun tumpah dalam ketakutan akan dipanggil-Nya sementara Ka'abahnya masih dihuni oleh berbagai berhala di dada.

Kedua mataku ada di antara pasangan mata itu. Dan mata hatiku ada di antara hati-hati yang diperlihatkan segala perbuatan yang selama ini telah dikerjakan oleh kedua tangan dan kaki ini. Kesombongan fikiran, kerendahan nafsu pandangan, kemalasan dan kekosongan selama menghadap-Nya, kelalaian, satu persatu diputar dalam layar ingatan.

Tangan dan tubuhku bergetar dengan dada ku bergoncang. Mulutku terbuka kuat seolah ada tangan yang besar sedang menelusuri masuk dan mencari sampah sarap dalam dadaku yang terangkat. Kulihat bumi yang kupijak, udara yang kuhirup, air yang membasuh tubuhku, semua memuji Sang Pencipta dengan nama-nama-Nya yang mulia: Yaa Wakiil (Maha Pemegang Amanah), Yaa Hayyu (Maha Hidup), Yaa Muhyii (Maha Menghidupkan). Sungguh, kulihat kekuasaanNya selalu menutupiku. Betapa sukarnya aku lari dari Nya. Namun apa yang selama ini aku perbuat tepat di depan MataNya? Allaaaaaaaaaaaaaahh.. aku malu pada-Mu... Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah... Aku tersungkur serendah-rendahnya.
***

Copernicus digantung kerana melawan pendapat gereja waktu itu. Begitu juga Galileo yang menyokong pendapat teori Revolusi Corpenicus itu. Dia sampaikan bahawa bumi yang dipijak manusia bukanlah pusat alam semesta. Bumi berputar mengelilingi matahari.
Sementara itu, 1400 tahun sebelumnya, seorang yang ummi dari padang pasir menyampaikan kepada kaumnya tentang putaran-putaran dan garis edar bumi, tentang bersatunya bumi dan langit yang kemudian dipisahkan, tentang sebuah ledakan hebat yang menampilkan pemandangan indah seperti mawar merah.
Apa yang dikatakan orang-orang kepadanya waktu itu? "Sungguh, kau bodoh, kau pembohong!" Jika aku hidup di zamannya, dengan berhala yang masih bersemayam dalam ka'abahku, mungkin aku termasuk orang-orang yang memperkatakan begitu kepadanya. Bersyukur aku hidup sekarang, tatkala semua yang disampaikan sudah dibuktikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan Sains da Matematik dan sebagainya. Aku tidak mengatakannya. Namun, di mana aku tempatkan kitab yang berisi kebenaran itu di hatiku? Hatiku penuh berhala-berhala dunia. Hatiku diisi dengan rasa diri sudah benar, dan kadang merasa paling benar. Bukankah ini sama saja diperkatakan, "itu semua bohong"?
***

Sungguh, semua yang ada di langit dan di bumi bersujud, bertawaf dan bertasbih kepada-Nya dalam keadaan suka rela atau terpaksa. Manusia berjalan di atas bumi mengelilingi ka'abah. Bulan berputar bertawaf mengelilingi bumi. Bumi berputar bertawaf mengelilingi matahari. Matahari berputar bertawaf mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Galaksi juga berputar bertawaf mengelilingi pusat jutaan galaksi. Dalam atom-atom yang membentuk kulit, tulang, mata, rambut manusia, semua elektron berputar bertawaf mengelilingi inti atom. Semua berputar dalam orbitnya. Semua bertawaf dan bertasbih: Yaa Muhaimin (Maha Memelihara), Yaa Qohhaar (Maha Perkasa), Yaa Baari' (Maha Menata), Yaa Qoobidh (Maha Pengendali), Yaa Waasi' (Maha Luas), Yaa Kabiir (Maha Besar), ...

Namun apa yang dilihat oleh kedua mataku? Hanya benda-benda astronomi yang ukurannya (luar biasa besarnya)? Hanya atom, elektron, neuron, dan nama-nama keren fizik? Hanya ukuran-ukuran super duper mega seperti jarak trilliun tahun cahaya? Dan tak pernah mata hatiku melihat semua itu bertasbih kepada-Nya seperti yang ditulis dalam kitab? Tak pernah hati ini tergetar melihat jumlah dan ukuran yang tak terbayang itu, dan tak pernah bola mata ini menitikkan kekaguman kepada Penciptanya? Diriku yang seukuran DEBU pun tak akan nampak jika dilihat dari hujung lain bumi, apa lagi dari hujung galaksi, mengapa selalu merasa urusannya melebihi alam semesta? Merasa paling benar dengan egonya? Sungguh diri ini tak mengenal siapa dirinya. Bagaimana dia boleh menjadi pemimpin manusia jika tentang dirinya sahaja dia dah tak tahu menahu? Atau bagaimana dia boleh dengan sombongnya merasa fikirannya benar dan harus diikuti orang lain sementara pengetahuan tentang dirinya sendiri tidak benar?
***

Betapa diriku belum mengenal diri sendiri. Seperti orang gila yang tidak mengerti apa yang diucapkan. Sebuah bicara ucap yang sangat agung dan paling istimewa diucapkan dengan lalai setiap hari:

Di suatu malam yang mulia, seorang utusan menghadap Tuannya. Diucapkannya salam dengan penuh rindu dan cinta: "Segala keselamatan, berkat, kebahagiaan, dan kebaikan hanyalah bagi Mu."
Tuan yang juga penuh rindu dan cinta menjawab salam kekasihnya, "Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu, wahai kekasihKu, berserta rahmat dan berkatNya."
Sang utusan yang berhati mulia, meski berjarak berjuta-juta tahun tahun cahaya, tak pernah melupakan umatnya yang masih terlelap di bumi, "Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami dan juga kepada hamba-hamba-Mu yang soleh."
Para makhluk cahaya yang menyaksikan pertemuan itu terharu melihat kemurahan Sang Tuan dan kemuliaan Utusan-Nya. Mereka pun serentak mengucapkan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya."
Kemudian manusia di bumi mengucapkan salawat kepada Utusan tersebut.
Namun, apa yang terlintas dalam hati dan fikiranku kala setiap hari ku ucapkan pertemuan agung itu? Bukankah aku tiada bezanya dengan orang-orang yang sakit jiwanya, tidak mengerti apa yang mereka ucapkan? Bagaimana bagi diriku yang sakit ini dapat merasa begitu benar dan urusannya melebihi luasnya alam semesta?
Yaa Rahman, Yaa Rahiim... sungguh Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan izin dan hidayah dari-Mu, diri ini telah dapat mengenal diri-Nya.

Dan pada tanggal 23 ogos 2009 Fourpoint Hotel Kuching, air mata terakhir dari seratus lebih pasang mata itu tumpah mencurah-curah, dalam sebuah sujud syukur. Engkau pun berkata, "HambaKu telah kembali memanggilKu."

Menelusuri pengalaman rasa bersama Ismail Fahmi